Jumat, September 26, 2008

Gunung Semeru

Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru termasuk dalam 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu Kab. Proholinggo, Kab. Pasuruan, Kab. Malang dan Kab. Lumajang. Kawasan ini banyak dikenal oleh wisatawan asing maupun do­mestik, terutama kawasan Bromo.

Untuk menuju G. Bromo dari arah Pasuruan: Dari Surabaya kita naik bus jurusan Probolinggo dan turun di Pasuruan. Selanjutnya naik Colt jurusan Tosari - Wonokitri. Di sini kita dapat bermalam di hotel atau losmen atau dapat juga langsung meneruskan perjalanan menuju G. Penanjakan, atau masuk ke lautan Pasir dan menuju puncak G. Bromo.

G. Penanjakan merupakan titik pandang terbaik ke arah kawasan G. Bromo, dimana Kawah Bromo nampak sebagai suatu panorama yang amat eksotis, dengan kepulan asap dan warna-warni punggungan bukit bekas lelehan lava belerang disekitarnva dan hamparan padang pasir mengelilinginva. Disini pemandangan matahari terbitpun nampak lebih indah dengan puncak G. Semeru sebagai latarnya.

Bila dari arah Probolinggo, kita naik Colt atau bis jurusan Sukapura terus Ngadisari. Dari Ngadisari naik kendaraan/berjalan kaki menuju Cemoro Lawang sejauh 3 Km. Di Cemoro Lawang kita dapat bermalam di hotel maupun losmen atau di rumah-rumah penduduk. Besok pagi-pagi sekali kita dapat melanjutkan perjalanan ke kawah G. Bromo yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki maupun naik kuda sewa, untuk menyaksikan panorama matahari terbit.

Masyarakat sekitar G. Bromo yaitu masyarakat Tengger mempunyai upacara tradisi tahunan yaitu upacara melempar sesaji pada tengah malam (tepat pkl. 24.00 WIB), yang disebut dengan upacara “Kasodo”. Upacana adat Tengger ini, biasanya sangat meriah dan sering dihadiri oleh pejabat-pejahat tinggi serta masyarakat Indonesia lainnya juga para turis asing yang jumlahnya mencapai puluhan ribu pengunjung.

Suhu di kawasan Bromo ini antara 5 - 14 C. Dan padang pasir Bromo kita dapat naik ke G. Batok, G. Kursi, maupun G. Pananjakan. Di kawasan G. Bromo ini banyak dijumpai panorama yang sangat menakjubkan.

Untuk menuju Gunung yang tertinggi di Pulau Jawa yaitu G. Semeru ( 3.676 m)~ paling mudah dicapai adalah dari arah Malang dengan naik Colt jurusan Tumpang, kemudian menuju desa Ranupane (2.200 m) dengan melewati desa Gubug Klakah (1.100 m) dan Ngadas (2.000 m) dengan Truk atau Jeep ongkosnya Rp. 6.000 sampai Rp. 10.000,- per onang (tahun 1999).

Desa Ranupane (2.100 m) adalah desa terakhir dan tempat pemeriksaan serta pos untuk melapor bagi para pendaki untuk naik, dan juga terdapat pondok pendaki untuk bermalam dan beristirahat. Ranu Pane mempunyai penduduk sekitar 60 orang yang merupakan perkampungan kecil, pekerjaan mereka pada umumnya bertani sayur-sayuran. Selain terdapat Ranu (danau) Pane, disebelahnya tendapat ranu lagi yang namanya Ranu Regulo.

Perjalanan ke Puncak G. Semeru dimulai dan desa Ranupane menuju Ranu Kumbolo pagi harinya pukul 7.00 melalui jalan setapak, jaraknya 13 Km., tidak terlalu terjal dengan memakan waktu sekitan 3-4 jam perjalanan. Di Ranu Kumbolo ada Pondok Pendaki untuk istinahat dan memasak. Daerah ini airnya inelimpah dan berada pada ketinggian 2.400 m dari permukaan laut. Ranu Kumbolo memiliki pemandangan yang sangat indah terlebih pada pagi hari bila kita dapat melihat matahani terbit dari celah-celah bukit.

Dari Ranu Kumbolo perjalanan dilanjutkan menuju Kalimati (2.700 m) melalui hutan cemara dimana kadang kita jumpai burung dan kijang. Penjalanan ini ditempuh 2 - 3 jam / 10 Km. Disini kita dapat mendirikan tenda, dan apabila kita membutuhkan air dapat menuju Sumbermani, kearah barat menelusuni pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh perjalanan 1 jam pulang pergi. Tetapi dianjurkan kehutuhan air telah dipersiapkan di Ranu Kumbolo.

Sebenarnya kita dapat juga berkemah di Ancopodo 1 jam perjalanan dari Kalimati ke arah puncak G. Semeiru. tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering tenjadi tanah longsor di kawasan tersebut.

Dari Kalimati biasanya para pendaki memulai pendakian menuju puncak pagi-pagi sekali, yaitu sekitar pukul 2 - 3 pagi dengan melalui hutan cemara 1 jam dan bukit pasir selama 2 - 3 jam untuk sampai di puncaknya, dengan keadaan jalan yang terjal menanjak.

Puncak Semeru yang biasa didaki adalah Puncak “Mahameru”. Dari puncak ini akan terlihat kawah yang disebut “Jonggring Saloko” dan yang uniknya setiap 10-15 menit sekali menyemburkan batuan vulkanis dengan didahului asap yang membumbung tinggi. Suhu di puncak Mahameru dingin sekali yaitu 0-4 C yang kadang-kadang berkabut tebal disertai badai angin. Pada saat badai dianjurkan untuk menunda pendakian ke puncak.

Panorama dari Puncak Mahameru tak akan pernah terlupakan indahnya, dimana terlihat puncak-puncak gunung di Jawa Timur, pesisir dan pantai, serta matahani terbit di ufuk timur.

Mendaki G. Semeru sebaiknva dimusim kemarau yaitu pada bulan-bulan Juni, Juli, Agustus dan September. Pendaki juga dianjurkan untuk tidak mendaki pada musim hujan di bulan Januani dan Februari, dimana sering terjadi badai dan tanah longsor.

Dari puncak turun kembali ke kemah (Kalimati) dibutuhkan waktu 1 jam, dan 3 jam untuk sampai di Ranu Kumbolo dan diperlukan 3 jam lagi untuk mencapai Ranu Pane. Bila sampai di Ranu Pane menjelang sore, kalau ada mobil kita bisa terus turun ke Gubug Klakah atau ke Tumpang, atau kita bisa bermalam di Ranu Pane dan besok paginya kita dapat turun kembali ke Tumpang.

Turun dari Ranupane ke arah Tumpang kita dapat juga menuju ke kawasan G. Bromo, melalui pertigaan Jempiang (2 Km sebelum desa Ngadas) ke arah kanan.

1

Taman Nasional Gunung Halimun

Halimun berarti kabut. Di gunung Halimun terdapat banyak misteri keanekaragaman hayati. Selain macan tutul, burung pemangsa bernama Elang Jawa juga bisa dijumpai di tempat ini.

Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) terletak lebih kurang 100 KM arah Barat Daya Jakarta. Secara administratif wilayah itu termasuk dalam Kabupaten Bogor, Lebak dan Sukabumi. Luas taman nasional ini mencapai 40.000 hektar dan terbentang di ketinggian antara 500 hingga 2000 meter di atas permukaan laut.

Dari kawasan taman nasional ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering memenuhi kebutuhan air bagi wilayah di sekitarnya. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciberang, Ciujung, Cidurian, Cisadane dan Cimandur.

Karena tempatnya masih berupa hutan perawan dan berada di ketinggian dengan kemiringan sampai 45 derajat, maka dapat ditemui beberapa air terjun yang sangat eksotik yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Salah satu tempat yang lazim dikunjungi adalah stasiun penelitian Cikaniki yang terletak di bagian Barat taman ini. Sekitar 200 meter di sebelah Utara stasiun penelitian ini terdapat sebuah menara penelitian, atau tepatnya jembatan yang diberi nama Canopy Walk. Bangunan ini menggunakan empat pohon besar sebagai penyangga empat jembatan yang panjangnya 100 meter dengan ketinggian 25 meter dari permukaan tanah.

Karena terletak di tiga kabupaten, Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) bisa dicapai lewat berbagai arah. Tapi untuk mudahnya, Anda bisa memilih jalur Parungkuda di Sukabumi menuju Kabandungan. Jarak yang dilalui sekitar 30 KM selama sekitar 1,5 jam. Kendaraan pribadi atau angkutan umum bisa digunakan untuk menempuh perjalanan ini. Kemudian dari kantor TNGH di Kabandungan, setelah membayar karcis Rp 1.500 per orang dan asuransi sebesar Rp 2.000, pengunjung dapat menuju ke stasiun penelitian Cikaniki, memakan waktu 1,5 hingga dua jam untuk jarak 18 kilometer, karena jalan masih berbatu. Dijalur ini penggunaan kendaraan pribadi tidak dianjurkan. Sebaiknya pengunjung menyewa truk pengangkut teh seharga Rp 25.000 sekali jalan. Dengan truk sewaan itu pula Anda bisa meneruskan perjalanan ke Cita Lahab, kawasan perkebunan teh yang berada dalam taman nasional itu.

Selamat Berpetualang!!

1

Senin, Mei 19, 2008

Akses Gn Gede, Putri dan Gn. Pangrango

Ada 6 pintu masuk menuju kawasan TNGP yaitu: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung.
Kantor Balai TNGP, pusat informasi (visitor center) dan tempat pendaftaran pendakian berlokasi di Cibodas. Pintu masuk Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana merupakan akses utama menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango. Pintu masuk Situgunung merupakan pintu menuju Danau Situgunung yang sangat sesuai untuk rekreasi keluarga. Sedangkan, Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol dengan kanopi trail sepanjang 4 km memiliki daya tarik bagi pengunjung dan masyarakat umum yang ingin berekreasi dengan merasakan keindahan hutan hujan tropis. Cisarua juga pintu masuk yang dekat dari Jakarta, mempunyai fasilitas untuk kemping yang cocok bagi keluarga, anak sekolah dan kelompok-kelompok pecinta alam.

Pintu Masuk Dengan Mobil Pribadi Dengan Transportasi UmumCibodas
Berjarak 100 km dari Jakarta. Dapat ditempuh melalui Jalan Tol Jagorawi dan keluar di Tol Ciawi. Di pertigaan Ciawi, ambil jurusan Puncak – Bandung. Setelah 7,6 km dari Puncak Pass Hotel, setelah Outlet DSE, belok ke kanan tepat pada pertigaan di Paragajen (Papan Nama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ada disebelah kiri jalan). Jalan lurus kira-kira 3 km dan sampai pada portal pintu Gerbang Wisata Cibodas, dan disini ada restribusi (mobil dan kendaraan roda dua Rp.3000,- dan setiap penumpang Rp. 1000,-/orang). Tidak jauh dari portal ini, anda menemukan kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango disebelah kanan. Dengan bis umum dari Bogor – Bandung, Jakarta – Bandung yang lewat Puncak. Turun di Pertigaan di Paragajen, dekat Outlet DSE. (Pertigaan ini disebut Pertigaan Cibodas, dan papan nama TNGP disebelah kiri jalan). Dari pertigaan, anda naik angkot warna kuning (Cibodas, Rarahan) dengan ongkos Rp. 2000 per orang sampai di pintu gerbang TNGP. Tarif ojek sampai ke pintu gerbang kantor TNGP Rp. 6000,-.Guung Putri Terletak 15 km dari Cibodas. Pengunjung dapat menuju lokasi ini dari Cipanas dengan jarak kira-kira 7 km. Lokasi Kemping Bobojong di Gunung Putri berjarak 1 km jalan kaki dari terminal angkot di Gunung Putri. Pengunjung harus naik angkot dari terminal Cipanas ke Gunung Putri dengan ongkos Rp. 3000,- /orangSelabintana Berjarak 10 km atau 30 menit dari Sukabumi, melewati jalan perkebunan teh dan kebun sayur. Pintu masuk Selabintana yaitu di Pondok Halimun berada di Cipelang. Dari terminal bis Sukabumi dengan minibus menuju pusat kota dan kemudian ganti kendaraan dengan minibus yang menuju Pondok Halimun.
Situgunung
Pintu masuk Situgunung terletak kira-kira 70 km atau 1.5 jam dari Bogor. Dari Bogor, ambil jurusan Sukabumi dan kemudian berbelok di Cisaat menuju Situgunung. Situgunung terletak di sebelah selatan kawasan Taman Nasional. Akses cukup bagus. Dari Jakarta atau Bogor, ambil bis jurusan Jakarta – Sukabumi – Cisaat. Jika dari terminal Sukabumi, naik minibus yang menuju Cisaat, dan sampai di Cisaat, ambil minibus menuju Situgunung, yang berjarak 10 km.Bodogol Dari Bogor ke pintu masuk Bodogol, ambil jurusan Sukabumi dan turun di Lido (kira-kira 25km). Dari Lido menuju desa Bodogol kira-kira 4km, dan dari desa Bodogol menuju PPKAB kira-kira 3 km melalui jalan berbatu, dan disarankan menggunakan kendaraan roda 4 dengan gardan ganda. Dengan menggunakan bis atau mini bus dari Bogor dengan ongkos Rp. 5,000-/orang. Dari Lido anda dapat menggunakan motor ojek menuju resort Bodogol dengan ongkos Rp. 5,000-/orang. Dari resort Bodogol, anda dapat mengunakan ojek sampai PPKAB.Cisarua Pintu gerbang Cisarua berjarak kira-kira 14 km atau 20 menit dari Ciawi dengan mobil. Menuju pintu gerbang akses cukup bagus dengan jalan aspal. Dari Ciawi, gunakan minibus menuju terminal Pasir Muncang, dan dari terminal ini sewa ojek menuju pintu masuk Cisarua.
Catatan: Informasi diatas berdasarkan kondisi Januari 2007, dan hanya merupakan referensi. TNGP tidak akan bertanggungjawab bila ada perubahan rute, harga dan kondisi lainnya.
(Sumber : TNGGP)

Pendakian Gunung Gede Pangrango dibuka 1 April 2008

Terhitung sejak tanggal 1 April 2008, Pendakian Gunung Gede Pangrango kembali dibuka untuk umum. Calon Pendaki diwajibkan melakukan reservasi (booking) secara langsung datang ke Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan alamat: Jln Raya Cibodas PO Box 3 Sdl, Cipanas, Cianjur ATAU melalui Tlp/Fax (0263) 512776/(0263) 519415 dengan syarat dan ketentuan pendakian sebagai berikut:
  1. Setiap pendaki harus memiliki Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang diproses di Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Pengajuan SIMAKSI pendakian menggunakan sistem booking dengan batas waktu minimum pengajuan adalah 3 (tiga) hari kerja dan maksimum 1 (satu) bulan kalender sebelum pendakian dilaksanakan.
  • Batas maksimum jumlah pendaki per hari adalah 600 orang (pintu masuk Cibodas: 300 orang, Gunung Putri: 200 orang dan Selabintana 100: orang).
  • Batas waktu maksimum pendakian adalah 2 (dua) hari 1 (satu) malam.
  • Setiap SIMAKSI pendakian dikeluarkan untuk minimum sejumlah 3 (tiga) orang pendaki dan maksimum 10 (sepuluh) orang pendaki.
  • Proses pengajuan SIMAKSI dilakukan pada hari kerja (Senin s/d Jumat), pukul 08.00 s/d 15.30.
  • Calon pendaki menyerahkan fotocopy Kartu Identitas yang masih berlaku (kartu identitas yang dapat menunjukkan alamat dan tanggal lahir calon pendaki).
  • Apabila calon pendaki berumur kurang dari 17 tahun, diwajibkan menyerahkan Surat Izin Orang Tua calon pendaki yang bersangkutan dan ditandatangani di atas Materai Rp. 6.000,- serta menyerahkan fotocopy KTP orang tua yang masih berlaku.
  • Membayar tiket masuk dan asuransi pendakian sebagai berikut:
    - Wisatawan Domestik: Rp. 5.000,-/orang
    - Wisatawan Mancanegara: Rp. 40.000,-/orang
    - Asuransi: Rp. 2.000,-/orang
  1. Pintu Masuk jalur pendakian dibuka mulai pukul 06.00 s/d 21.00 WIB.
  2. Pendaki memilih salah satu dari 3 (tiga) alternatif waktu keberangkatan: (1) 06.00 - 11.00 wib (2) 11.00 - 16.00 wib (3) 16.00 - 21.00 wib
  3. Petugas Balai Besar TNGGP pada pintu masuk kawasan akan memeriksa barang bawaan dan SIMAKSI sebelum dan sesudah memasuki kawasan.
  4. Untuk keselamatan diri, setiap pendaki diwajibkan memakai sepatu serta membawa keperluan pribadi seperti jaket, obat-obatan, tenda, senter, jas hujan, matras, makanan dan minuman secukupnya.
  5. Tidak diperbolehkan membawa binatang ke dalam kawasan.
  6. Tidak diperbolehkan memetik, memindahkan atau mencabut tanaman di dalam kawasan.
  7. Tidak diperbolehkan membuat api unggun di dalam kawasan.
  8. Tidak diperbolehkan mengganggu, memindahkan, atau melakukan vandalisme pada fasilitas yang tersedia di dalam kawasan.
  9. Berjalan pada jalur yang sudah ditentukan/disediakan.
  10. Tidak diperbolehkan meninggalkan sampah dan wajib membawa turun kembali sampah bawaannya. Wajib mengikuti semua peraturan yang berlaku di Balai Besar TNGGP.

Apabila kondisi cuaca buruk dan diperkirakan akan membahayakan keselamatan pendaki, maka manajemen Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dapat menutup jalur pendakian untuk sementara waktu dan pendaki baru diperbolehkan mendaki ketika cuaca telah membaik.

(Sumber : TNGGP Maret 2008)