Senin, Juni 29, 2009

Flu Singapura

FLU SINGAPURA - HFMD - KTM

"Flu Singapura" sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )
Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.
Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/biasa pada kelompok masyarakat yang crowded dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ).
Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 - 5 hari.

GAMBARAN KLINIK
Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti flu pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus dumulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.
Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.
Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.
Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).
o Demam tidak turun-turun (Prolonged Fever)
o Tachicardia.
o Tachypneu
o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.
o Lethargi
o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.
o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)
o Encephalitis ( bulbar )
o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis
o Paralisis akut flaksid (Polio-like illness)

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) - Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)
2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) - EV 70
3. Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10

LABORATORIUM

Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.
Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.
Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.

Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut

1. Deteksi Virus :

o Immuno histochemistry (in situ)
o Imunofluoresensi antibodi (indirek)
o Isolasi dan identifikasi virus.
Pada sel Vero ; RD ; L20B
Uji netralisasi terhadap intersekting pools
Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.

2. Deteksi RNA

RT-PCR
Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?
5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?
Partial DNA sekuensing (PCR Product)

3. Serodiagnosis

Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.
Uji ELISA sedang dikembangkan.
Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :

o Istirahat yang cukup
o Pengobatan spesifik tidak ada.
o Dapat diberikan :

Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus
Extracorporeal membrane oxygenation.

o Pengobatan simptomatik :
Antiseptik didaerah mulut Analgesik misal parasetamol Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll ).
Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.
Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.
Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.
Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI
Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)
Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.
Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM
Menjaga kebersihan perorangan.
Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :
o Daya tahan tubuh menurun.
o Tidak menularkan kebalita lainnya.
Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan, Universal Precautionnya.




Selasa, Desember 23, 2008

Mengatasi Kesulitan untuk Menabung

Menabung, sesuatu yang selalu diidam-idamkan semua orang . Jika ditanya semua orang pasti mau nabung dong? Namun tidak sedikit dari mereka mengalami kesulitan dalam menabung. Alasan utama dan mungkin satu-satunya dalah : tidak ada uang yang bisa ditabung. "Lha wong yang buat ditabung aja gak ada, gimana mau nabung?" Mungkin Anda pernah merasakannya juga.

Hukum dalam menabung itu hanya satu :
"Bukan berapa besar penghasilan Anda tiap bulan , namun berapa banyak Anda bisa menabung setiap bulannya?" Banyak sekali orang berpenghasilan Rp. 1 juta yang dapat menabung Rp.100 ribu setiap bulannya namun tidak sedikit orang berpenghasilan Rp.5 juta yang selalu kehabisan uang di tanggal 20 setiap bulannya dan menanti tanggal 27 tiba J

Triknya sebenarnya mudah : PAY YOURSELF FIRST , sisihkan dulu untuk menabung baru pakai sisanya untuk pengeluaran. Jika sebaliknya yang dilakukan, maka sering kali kita tidak menyisakan uang sepeserpun untuk ditabung di akhir bulan. Dengan trik ini, mindset kita akan terpola bahwa uang yang dapat dipakai untuk pengeluaran adalah PERHASILAN minus PAY YOURSELF FIRST. Sulit untuk melakukannya? Mari kita lihat kasus berikut:

Sadarkah Anda berapa uang yang telah Anda barikan untuk "orang lain", sebagai contoh kita belanja di mall sampai 2 kali sebulah untuk membeli baju baru atau makan di restoran fast food yang mahal. Setelah tiga bulan kita sudah merasa bosan dengan baju yang kita beli tersebut, memberikannya pada orang lain? Saya rasa itu bukan pilihan orang kebanyakan, secara naluriah manusia pasti ingin menyimpannya di lemarinya selama mungkin dan menjadi sampah. Itu baru salah satunya, coba Anda ingat-ingat lagi pengeluaran Anda yang sebenarnya lebih bersifat keinginan, dan bukan kebutuhan. Banyak sekali bukan?

Mari kita tengok dari sisi si pemilik butik, usahanya menjadi maju dan penghasilannya meningkat dan dia menjadi pengusaha yang mapan, Terima kasih atas usaha kita untuk membeli produknya J.

Mengapa kita rela melakukan ini, membayarnya, dengan cash, menggesek kartu kredit, atau lebih ironis lagi sampai penandatangan perjanjian segala...weleh weleh. Lebih baik kalau kita menghamburkan uang itu untuk diri kita sendiri bukan? Membuat diri kita dan keturunan lebih kuat secara finansial. Dengan menabung, berinvestasi, membeli asuransi hari tua. Ingat bahwa menghamburkan uang saat ini berarti kita telah merampas "daya beli" kita dan keturunan kita di masa mendatang, sedangkan menabung berarti menyimpan "daya beli" kita untuk digunakan di masa mendatang.

Mispersepsi. Itulah yang terjadi ketika orang dihadapkan untuk membeli produk perbankan, itu dirasa sebagai penghamburan uang yang tidak jelas karena kita tidak mendapatkan produk nyata. Padahal :
Dana pendidikan anak meningkat 10% tiap tahun, sedangkan investasi di bank hanya memberikan pengembalian 7%. Darimana kita akan mengejar sisa 3% nya? Sementara kebutuhan lain juga gak mau kalah untuk ikut-ikut naik harga.

Apakah Anda sudah menyiapkan tabungan untuk cadangan dana kesehatan untuk usia 55 nanti,, atau untuk biaya hidup pada usia 60 nanti jika kita masih hidup sementara kita sudah tidak lagi berpenghasilan. Mungkin kita berkata," Ah, gimana nanti deh. rejeki kan sudah ada yang ngatur, nanti juga ada aja jalannya". Tapi tanpa usaha dari kita (bahkan memikirkannya pun tidak), apakah Sang Pemberi Rejeki akan memilih kita untuk diberikan rejeki?

Jadi, bijaklah terhadap masa depan kita dan keturunan kita. Menabunglah mulai sekarang.


Selamat menabung

Jumat, September 26, 2008

Gunung Semeru

Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru termasuk dalam 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu Kab. Proholinggo, Kab. Pasuruan, Kab. Malang dan Kab. Lumajang. Kawasan ini banyak dikenal oleh wisatawan asing maupun do­mestik, terutama kawasan Bromo.

Untuk menuju G. Bromo dari arah Pasuruan: Dari Surabaya kita naik bus jurusan Probolinggo dan turun di Pasuruan. Selanjutnya naik Colt jurusan Tosari - Wonokitri. Di sini kita dapat bermalam di hotel atau losmen atau dapat juga langsung meneruskan perjalanan menuju G. Penanjakan, atau masuk ke lautan Pasir dan menuju puncak G. Bromo.

G. Penanjakan merupakan titik pandang terbaik ke arah kawasan G. Bromo, dimana Kawah Bromo nampak sebagai suatu panorama yang amat eksotis, dengan kepulan asap dan warna-warni punggungan bukit bekas lelehan lava belerang disekitarnva dan hamparan padang pasir mengelilinginva. Disini pemandangan matahari terbitpun nampak lebih indah dengan puncak G. Semeru sebagai latarnya.

Bila dari arah Probolinggo, kita naik Colt atau bis jurusan Sukapura terus Ngadisari. Dari Ngadisari naik kendaraan/berjalan kaki menuju Cemoro Lawang sejauh 3 Km. Di Cemoro Lawang kita dapat bermalam di hotel maupun losmen atau di rumah-rumah penduduk. Besok pagi-pagi sekali kita dapat melanjutkan perjalanan ke kawah G. Bromo yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki maupun naik kuda sewa, untuk menyaksikan panorama matahari terbit.

Masyarakat sekitar G. Bromo yaitu masyarakat Tengger mempunyai upacara tradisi tahunan yaitu upacara melempar sesaji pada tengah malam (tepat pkl. 24.00 WIB), yang disebut dengan upacara “Kasodo”. Upacana adat Tengger ini, biasanya sangat meriah dan sering dihadiri oleh pejabat-pejahat tinggi serta masyarakat Indonesia lainnya juga para turis asing yang jumlahnya mencapai puluhan ribu pengunjung.

Suhu di kawasan Bromo ini antara 5 - 14 C. Dan padang pasir Bromo kita dapat naik ke G. Batok, G. Kursi, maupun G. Pananjakan. Di kawasan G. Bromo ini banyak dijumpai panorama yang sangat menakjubkan.

Untuk menuju Gunung yang tertinggi di Pulau Jawa yaitu G. Semeru ( 3.676 m)~ paling mudah dicapai adalah dari arah Malang dengan naik Colt jurusan Tumpang, kemudian menuju desa Ranupane (2.200 m) dengan melewati desa Gubug Klakah (1.100 m) dan Ngadas (2.000 m) dengan Truk atau Jeep ongkosnya Rp. 6.000 sampai Rp. 10.000,- per onang (tahun 1999).

Desa Ranupane (2.100 m) adalah desa terakhir dan tempat pemeriksaan serta pos untuk melapor bagi para pendaki untuk naik, dan juga terdapat pondok pendaki untuk bermalam dan beristirahat. Ranu Pane mempunyai penduduk sekitar 60 orang yang merupakan perkampungan kecil, pekerjaan mereka pada umumnya bertani sayur-sayuran. Selain terdapat Ranu (danau) Pane, disebelahnya tendapat ranu lagi yang namanya Ranu Regulo.

Perjalanan ke Puncak G. Semeru dimulai dan desa Ranupane menuju Ranu Kumbolo pagi harinya pukul 7.00 melalui jalan setapak, jaraknya 13 Km., tidak terlalu terjal dengan memakan waktu sekitan 3-4 jam perjalanan. Di Ranu Kumbolo ada Pondok Pendaki untuk istinahat dan memasak. Daerah ini airnya inelimpah dan berada pada ketinggian 2.400 m dari permukaan laut. Ranu Kumbolo memiliki pemandangan yang sangat indah terlebih pada pagi hari bila kita dapat melihat matahani terbit dari celah-celah bukit.

Dari Ranu Kumbolo perjalanan dilanjutkan menuju Kalimati (2.700 m) melalui hutan cemara dimana kadang kita jumpai burung dan kijang. Penjalanan ini ditempuh 2 - 3 jam / 10 Km. Disini kita dapat mendirikan tenda, dan apabila kita membutuhkan air dapat menuju Sumbermani, kearah barat menelusuni pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh perjalanan 1 jam pulang pergi. Tetapi dianjurkan kehutuhan air telah dipersiapkan di Ranu Kumbolo.

Sebenarnya kita dapat juga berkemah di Ancopodo 1 jam perjalanan dari Kalimati ke arah puncak G. Semeiru. tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering tenjadi tanah longsor di kawasan tersebut.

Dari Kalimati biasanya para pendaki memulai pendakian menuju puncak pagi-pagi sekali, yaitu sekitar pukul 2 - 3 pagi dengan melalui hutan cemara 1 jam dan bukit pasir selama 2 - 3 jam untuk sampai di puncaknya, dengan keadaan jalan yang terjal menanjak.

Puncak Semeru yang biasa didaki adalah Puncak “Mahameru”. Dari puncak ini akan terlihat kawah yang disebut “Jonggring Saloko” dan yang uniknya setiap 10-15 menit sekali menyemburkan batuan vulkanis dengan didahului asap yang membumbung tinggi. Suhu di puncak Mahameru dingin sekali yaitu 0-4 C yang kadang-kadang berkabut tebal disertai badai angin. Pada saat badai dianjurkan untuk menunda pendakian ke puncak.

Panorama dari Puncak Mahameru tak akan pernah terlupakan indahnya, dimana terlihat puncak-puncak gunung di Jawa Timur, pesisir dan pantai, serta matahani terbit di ufuk timur.

Mendaki G. Semeru sebaiknva dimusim kemarau yaitu pada bulan-bulan Juni, Juli, Agustus dan September. Pendaki juga dianjurkan untuk tidak mendaki pada musim hujan di bulan Januani dan Februari, dimana sering terjadi badai dan tanah longsor.

Dari puncak turun kembali ke kemah (Kalimati) dibutuhkan waktu 1 jam, dan 3 jam untuk sampai di Ranu Kumbolo dan diperlukan 3 jam lagi untuk mencapai Ranu Pane. Bila sampai di Ranu Pane menjelang sore, kalau ada mobil kita bisa terus turun ke Gubug Klakah atau ke Tumpang, atau kita bisa bermalam di Ranu Pane dan besok paginya kita dapat turun kembali ke Tumpang.

Turun dari Ranupane ke arah Tumpang kita dapat juga menuju ke kawasan G. Bromo, melalui pertigaan Jempiang (2 Km sebelum desa Ngadas) ke arah kanan.

1

Taman Nasional Gunung Halimun

Halimun berarti kabut. Di gunung Halimun terdapat banyak misteri keanekaragaman hayati. Selain macan tutul, burung pemangsa bernama Elang Jawa juga bisa dijumpai di tempat ini.

Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) terletak lebih kurang 100 KM arah Barat Daya Jakarta. Secara administratif wilayah itu termasuk dalam Kabupaten Bogor, Lebak dan Sukabumi. Luas taman nasional ini mencapai 40.000 hektar dan terbentang di ketinggian antara 500 hingga 2000 meter di atas permukaan laut.

Dari kawasan taman nasional ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering memenuhi kebutuhan air bagi wilayah di sekitarnya. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciberang, Ciujung, Cidurian, Cisadane dan Cimandur.

Karena tempatnya masih berupa hutan perawan dan berada di ketinggian dengan kemiringan sampai 45 derajat, maka dapat ditemui beberapa air terjun yang sangat eksotik yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Salah satu tempat yang lazim dikunjungi adalah stasiun penelitian Cikaniki yang terletak di bagian Barat taman ini. Sekitar 200 meter di sebelah Utara stasiun penelitian ini terdapat sebuah menara penelitian, atau tepatnya jembatan yang diberi nama Canopy Walk. Bangunan ini menggunakan empat pohon besar sebagai penyangga empat jembatan yang panjangnya 100 meter dengan ketinggian 25 meter dari permukaan tanah.

Karena terletak di tiga kabupaten, Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) bisa dicapai lewat berbagai arah. Tapi untuk mudahnya, Anda bisa memilih jalur Parungkuda di Sukabumi menuju Kabandungan. Jarak yang dilalui sekitar 30 KM selama sekitar 1,5 jam. Kendaraan pribadi atau angkutan umum bisa digunakan untuk menempuh perjalanan ini. Kemudian dari kantor TNGH di Kabandungan, setelah membayar karcis Rp 1.500 per orang dan asuransi sebesar Rp 2.000, pengunjung dapat menuju ke stasiun penelitian Cikaniki, memakan waktu 1,5 hingga dua jam untuk jarak 18 kilometer, karena jalan masih berbatu. Dijalur ini penggunaan kendaraan pribadi tidak dianjurkan. Sebaiknya pengunjung menyewa truk pengangkut teh seharga Rp 25.000 sekali jalan. Dengan truk sewaan itu pula Anda bisa meneruskan perjalanan ke Cita Lahab, kawasan perkebunan teh yang berada dalam taman nasional itu.

Selamat Berpetualang!!

1