Rabu, Oktober 20, 2010

Beberapa model Tali Panjat

Half Rope
Memanjat dengan dua tali langsing 8-9mm merupakan alternatif fungsional pada jalur-jalur dimana tali tunggal akan zig zag melalui peralatan, membuat tali tertarik dengan kencang. Dengan dua tali, satu tercantol kepada peralatan yang cenderung menuju sebelah kanan dan lain dicantolkan ketika ini mengembara meninggalkan.
Pada jalu licin, menarik badan untuk mencantolkan salah satu tali  mengizinkan tali lainnya semakin dekat sampai pengaman terakhir, jadi mengurangi jatuh jauh yang berbahaya.
Dry treated ropes
Daripada menyimpan tali dari memperoleh memenuhi selama cuaca cuaca buruk atau kebetulan basah karena menyeberangi sungai, tali drytreatment mereduksi anyaman luar saat dipakai pada batuan abrasif.
Middle marks and Bi-coloring
Jika anda lakukan rappelling atau kamu lakukan sport climbing di daerah dimana menurunkan pemanjat secara langsung dari anchor ke dasar, anda telah tahu bagaimana tepatnya pertengahan tali.
Penanda di pertengahan tali dicelupkan tinta di tepat di pertengahan tali panjat. Bi color berarti ada dua perbedaan dan beda tenunan untuk setiap setengah mantle (anyaman luar) tali. jangan karena perbedaan terlihat hebat, sehingga ini tidak pernah dipakai. Bicolor tali cara terbaik anda memperoleh panjang itu maksimum dari setiap rappel atau itu memimpin pemanjatan sport akan dapat kembali lagi kepada dasar tebing tanpa kehabisan tali. Singkatnya, tanda di tengah dan bicoloring menjaga keselamatan dan menghemat banyak waktu.
Supple Rope
Halus, tali fleksibel, bagus untuk belay dan penggulungan yang sangat mudah. Tali  ini baik untuk tebing yang tidak sangat abrasif atau tidak mempunyai banyak perubahan di sudut permukaan. Memanjat dengan banyak roof dengan sudut yang tepat dan puncak, peralihan dari terjal ke rata.
Tentu saja, half rope akan memberi mu dua kali lebih panjang melakukan rappel dengan dengan perhitungan hampir dua kali berat  dari tali tunggal.
Static Rope
Tali statis berhasil dengan gemilang untuk jumaring pada lintasan tetap (fixed line), rappelling dan haulling di dinding besar. Tetapi bila ini memanjat, tali statis istirahatkan. Bahkan ketika ada top roping, tali statis dapat menarik pemanjat yang jatuh kecuali belay-nya bekerja dengan sempurna

Selasa, Oktober 19, 2010

Tali Panjat Tebing

Cara Memilih Tali
Pemilihan tali merupakan permainan kompromi. Tahan lama, tali lebih berat ada pada biaya meningkatkan tali tertarik dan tarikan gravitasi. Sedangkan, cord yang lebih ringan sulit untuk belayer menjaga kendali sementara menahan leader yang terjatuh dan lebih menyerupai terkikis pada tepian tebing. Anda perlu menentukan mana kelebihan pada sebuah tali.
Jika anda hanya mempunyai sedikit pengalaman dengan tali temali, tanya seseorang bagaimana memperlakukan tali baik di area panjat.

Petunjuk Umum Pemilihan Tali sesuai keperluan secara umum : 

Sport Climbing
Pilih tali 9.5 - 10mm untuk memanjat dengan banyak jalur. Untuk kebanyakan pemanjat sport ini adalah tali yang dibeli dan dipakai.
Pilih sebuah tali 9.5mm yang ringan tali untuk proyek pembuakaan jalur dan redpoint yang sulit.
pilih tali 10.5 - 11mm untuk top-roping, bekerja / dogging sebuah proyek sebaik memanjat dengan sistem bolting dan cleaning jalur.
 
Trad Climbing
Pilih tali  9.5 -10mm jika kamu hati-hati dengan ketinggian.
Pilih tali 10.5 - 11mm jika anda akan lakukan banyak belaying di atas overhang dan memanjat dengan pasangan yang skill panjatnya dibawah anda dan biasanya mengalami kesulitan pada tali.
 
Big Wall Climbing
pilih 10.5 atau 11mm tali kalau anda punya sesuatu yang special di pikiran seperti sebuat pemanjatan cepat atau tindakan sulit yang dilaksanakan melebihi manusia biasa lainnya (misal ; pecahkan rekor pemanjatan)
 
Alpine Climbing
Pilih sebuah tali  9.5 - 10mm dry rope. Memanjat dengan tali  ringan boleh jadi dapat diterima untuk tim berpengalaman yang perlu menilai setiap ons.

Senin, Oktober 18, 2010

TAMAN GUNUNG GEDE PANGRANGO

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980. Dengan luas 21.975 hektar, kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta.Di dalam kawasan hutan TNGP, dapat ditemukan “si pohon raksasa” Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar (Nephentes spp); berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang bercahaya. Disamping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti kepik raksasa, sejenis kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia seperti Kijang, Pelanduk, Anjing hutan, Macan tutul, Sigung, dll, serta 250 jenis burung. Kawasan ini juga merupakan habitat Owa Jawa, Surili dan Lutung dan Elang Jawa yang populasinya hampir mendekati punah. Ketika anda hiking di kawasan TNGP, anda dapat menikmati keindahan ekologi hutan Indonesia.
Sebagai kawasan wisata dan rekreasi, saat akhir minggu (Sabtu dan Minggu) dan hari libur, kawasan wisata Cibodas dan Kebun Raya Cibodas akan diramaikan oleh pengunjung yang membeli suvenir dan oleh-oleh berupa sayuran dan buah-buah segar dengan harga terjangkau dari pasar wisata di Cibodas.
Nikmati liburan anda di kawasan taman nasional, dengan indahnya pesona alam pegunungan, menyegarkan diri anda setelah hari-hari yang sibuk, dan anda dapat belajar tentang alam dan ekosistem alam.
Mari bersama-sama melestarikan alam yang sangat berharga ini dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang!!!

Minggu, Oktober 17, 2010

Asal Usul Gunung Semeru

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.
Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.
Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru.
Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat semedi untuk mendengar suara gaib.
Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.
Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh Mahkluk halus yang mendiami daerah keliling gunungnya. Roh halus tersebut biasanya adalah Roh Leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.
Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat Mahkluk halus penunggu Ranu Kumbolo. Tengah malam ada cahaya berwarna orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok hantu wanita. Biasanya hanya orang yang punya kekuatan mistis dia akan melihat Mahkluk halus dan dapat bicara dengan Mahkluk Halus. Terserah orang percaya pada Mahkluk Halus atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh Mahkluk Halus.